Sabtu, 08 Juli 2017

WASPADAI PENGHAMBAT PRODUKTIFITAS HIDUP

1.Tradisi kehidupan ibadah yang kurang berkualitas sehingga menurunkan mutu kepribadian kita..Sebagai dampaknya kemudian kita mengalami penurunan keyakinan dan optimisme diri, kegigihan dan daya tahan , keberanian dan ketangguhan , ketenamgan dan kejernihan berpikir serta bertindak.

2.Komitmen yang lemah pada peningkatan etoskerja diri yang bisa dicapai  terutama melalui perbaikan kebiasaan berolahraga secara teratur.

3.Kehilangan budaya belajar yang lebih kontemplatif karena terjebak oleh tarikan kebiasaan berlama lama ngobrol di media sosial tentang hal hal yang tidak bersifat memajukan diri ,serta hal hal lain yang tidak bermanfaat

4.Tidak optimal memanfaatkan setiap interaksi dengan orang lain sebagai sarana penambah jaringan kerja produktif yang terpercaya.

5.Rasa puas diri yang membutakan kita terhadap realitas kehidupan yang sudah jauh berubah dan tidak bisa kita hadapi dengan kualitas kompetensi diri yang lama.

Jumat, 30 Juni 2017

Yang Lebih Menggalaukan Dari Jodoh

Pengalaman saya yang sudah nikah ya, walau baru sekali hehe..
(ngarepnya berapa?!), kalau nyari yang mau itu nggak seberapa berat dibanding tantangan setelah menikah

Karena setelah menikah, tanggung jawab wanita itu adanya di suaminya bukan lagi di orangtuanya, bila dia maksiat kamu yang tanggung, bila dia salah itu juga salahmu

Jadi kalau kamu sekarang pusing mikirin jodoh, garusnya kamu pusing kuadrat mikirin gimana setelah nikah, ilmu sudah cukup belum, sama Allah sudah deket belum?

Tapi kebanyakan orang mikirnya, siapa yang mau sama saya, tabungan udah cukup belum, nanti mau ngasi makan apa ke keluarga, padahal itu mudah dibanding yang tadi

Kalau cuma sekedar kasi makan, yang bukan Islam juga bisa, lebih banyak malah, kalau cuma nikah yang nggak beragama juga nikah, lebih banyak malah

Tapi dalam Islam yang berat itu ya pas pernikahan, karena itu ibadah paling lama dalam hidup, shalat paling 10 menit, puasa Ramadhan nggak lebih 30 hari, ya nggak

Kalau nggak punya ilmu dan nggak dekat ke Allah, goyangan dikit aja bisa buat bahtera rumah tangga berantakan, walau awalnya kamu pikir nggak akan marahan

Lha yang punya ilmu kayak Umar bin Khaththab aja pernah ngerasain sulitnya berumah tangga, lha kamu kira kamu siapa lantas merasa gak perlu lagi belajar

Asiknya, kalau kita sudah fokus mendekat pada Allah, Allah nggak hanya bimbing kita dan kasih kita ilmu, tapi Allah mudahkan semua jalan kita, iya semuanya

Kita dimudahkan nyari dan milih yang salihah, dibimbing kalau ada masalah, ditata hidup kita dan dikuatkan kalau lagi ada goyangan-goyangan di bahtera kehidupan

Jadi ngapain penggalauan mikirin jodoh, galau mikirin ilmu aja lebih mutu, mikir hubungan kita dengan Allah, masak dari dulu gitu-gitu aja, nggak ada rasa naik-naiknya

Apalagi kalau kamu tau masih kuliah, apalagi masih sekolah, hadeh, ya jangan dulu lah, tau diri aja dulu, siapin ilmu, benerin diri, deketin Allah, ben sirahmu adem!

NB: Yang difoto itu, yang menenangkanku kalau lagi galau, dan juga menggalaukan kalau lagi tenang. Ya itulah namanya rumah tangga, jangan kira adem terus kayak difoto, itu kan cuma pencitraan 😂😂😂

Oleh Ust. Felix

Selasa, 27 Juni 2017

LAGI BACA APA?

Hasil penelitian di Perancis bilang sebuah buku/kitab bisa merubah sorot mata, wajah dan bahkan cara bicara. Automatically.

Saat 2 grup responden diteliti. Grup 1 dijauhi dari buku selama beberapa waktu. Grup 2 diasupi secara intens buku demi buku setiap hari. Hasilnya? Dalam jangka waktu tertentu wajah orang-orang pada grup 2 berubah menjadi lebih cerah, yg dalam bahasa Malik, Ilmuwan Perancis itu, menjadi lebih bercahaya.

Jadi inget seorang kawan berkacamata zaman di kampus. Kosannya kecil tapi penuh dengan tumpukan buku. Pernah drop out dr kampus karna pilihan hidup. Lalu lanjut kuliah meski tertinggal, juga karna pilihan. Saya ingat dia satu-satunya orang yg pernah cerita ke saya tentang "Waiting for Godot" nya Samuel Buckett dan "The Legend of Three Kingdom" China Klasik saat yg lain cerita ttg komik-komik.

Parasnya biasa. Tapi sorot matanya memang nyala (Neon kali ah). Dan tiap kali bertemu seakan tatapannya ngomong : "Seberapa cepet lo balap lari ama gua?" Tipikal kawan yg tiap ketemu nularin setrum dan ngajak berlomba dlm kebaikan. Pantes wong bacaannya bertumpuk. Dan tentu waktu itu saya kalah jauh dari dia.

Tapi dari situ saya terlecut. Bahwa lewat hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun masa iya diri kita ga ada kemajuan. Apapun bentuk kemajuan itu.

Selesai? Belum. Dari semua yg terpenting itu, saya mau menyampaikan ini..

Suatu ketika Imam Asy Syafii membawa mushaf. Lalu berjumpa dengan rekan sekaligus murid-muridnya yg membawa buku-buku hadist dan agama. Lalu beliau menasihati.

"Kalian telah disibuki dari membaca ini (mushaf Al quran yg dibawa sang imam) kepada membaca itu (buku-buku agama yg mereka genggam)".

See? Jika membaca buku islam saja tak lebih penting dibanding membaca mushaf. Maka orang yg paling banyak perlu dikoreksi adalah kita. Yg bahkan mushaf dan bukupun amat jarang disentuh.

Maka ada 3 pesan penting yg tak kasat mata dari sang Imam:
Bacalah mushafmu. Jangan tinggalkan bukumu. Dan Bertemanlah dengan orang baik.

Temen yg baik memang seperti penjual minyak wangi kata Nabi. Kalo ga dapat minyak wanginya. Kita pasti kecipratan harumnya. So, If we encounter a man of rare intellect,  we should ask him what books he reads.

Salam,
Dea Tantyo

Senin, 26 Juni 2017

Wajah Muram Dunia Riset Indonesia

https://tirto.id/wajah-muram-dunia-riset-indonesia-CAi?utm_source=Facebook&utm_campaign=Midnight&utm_medium=Social

Minggu, 25 Juni 2017

LETNAN JENDERAL PRABOWO


by Zeng Wei Jian

Salah satu korban konspirasi-fitnah akbar di negeri ini adalah Letnan Jenderal Prabowo Subianto (08). Saatnya, kebenaran disuarakan. Stigmatisasi hitam adalah jahat.

Letnan Jenderal Prabowo Subianto adalah putera Prof Sumitro dan Dora Sigar. Keluarga pejuang. Kakeknya, Margono Djojohadikusumo (PNI) adalah pendiri Bank Negara Indonesia dan anggota BPUPKI. Thus, Prabowo adalah cucu salah seorang pendiri republik (founding fathers).

Panglima Kostrad (22) dan Danjen Kopassus (15) ini punya paman bernama Subianto dan Suyono Djojohadikusumo. Keduanya gugur dalam Peristiwa Daan Mogot (Pertempuran Lengkong), tanggal 25 Januari 1946. Mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tangerang. Subianto Djojohadikusumo masuk golongan pemuda bersama Sukarni, Iwa Kusumasumantri, Chaerul Saleh, Wikana dan sebagainya. Mereka mendesak Sukarno Hatta memproklamasikan kemerdekaan.

Prof Sumitro menamakan adik lelaki Bintianingsih dan Mayrani Ekowati dengan nama "Subianto". Jadilah dia "Prabowo Subianto".

Jauh sebelum namanya dihitamkan terlibat Mei 98, Prabowo pernah sekolah di London tahun 1966-1968. Dia lulus The American School.

Studinya dilanjutkan di Akademi Militer Magelang dan lulus tahun 1974. Seangkatan dengan Jenderal Ryamizard Ryacudu dan Soesilo Bambang Yudhoyono. 

Tahun 1976, di usia 26 tahun, Letnan Satu Prabowo Subianto jadi komandan Grup 1 Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha). Dia komandan termuda di Unit Komando Nanggala. Misinya, tangkap PM Fretilin Nicolau dos Reis Lobato. Dalam baku-tembak, pasukan Prabowo menembak perut Nicolau.

Sebelum sukses dalam Operasi Mapenduma membebaskan 11 orang researchers yang disandera OPM, Prabowo ikut pendidikan Advanced Infantry Officers di Fort Benning (1985).

Ada dua contoh alasan mengapa black campaign dan character assasination terhadap Prabowo Subianto jadi tidak relevan.

Pertama, dahulu Prabowo Subianto berperang melawan Panglima GAM, Muzakkir Manaf. Dalam Operasi Jaring Merah (awal 1990-an sampai 22 Agustus 1998).

Anehnya, tahun 2013 Muzakkir Manaf jadi Ketua Dewan Penasihat DPD Partai Gerindra Aceh. Gerindra adalah partai politik yang dibentuk Prabowo Subianto pada tanggal 6 Februari 2008.

Selain Muzakkir Manaf, sejumlah petinggi GAM juga masuk Partai Gerindra. Misalnya, Wakil Panglima GAM Kamarudin Abu Bakar (Abu Razak), Darwis Jeunib, Sarjani Abdullah, Ayub bin Abbas, Zulkarnaini Hamzah.

Abu Razak adalah generasi ketiga keluarga besar Brigjen Syamaun Gaharu (Pangdam Iskandar Muda 1956-1960).

Di tahun 1988, Abu Razak ikut latihan militer di camp Tajura Tripoli Libya. Pernah jadi pengawal Moamar Khadafi. Setelah kembali ke Aceh, di tahun 1998, dia jadi Panglima Pidie.

Saat Muzakkir Manaf menggantikan Abdullah Syafi'i sebagai Panglima GAM, Abu Razak menjadi Wakil Panglimanya.

Tidak ada jenderal lain selain Prabowo Subianto yang bisa menciptakan fenomena macam begini.

Alasan kedua, selain akrab dengan eks musuh GAM, Prabowo Subianto disebut-sebut sebagai penculik aktifis pro demokrasi. Anehnya, semua aktifis yang pernah ditangkap pasukan Prabowo dilepas dan hidup. Dua di antaranya malah jadi Pengurus DPP Partai Gerindra dan Anggota DPR-RI yaitu Desmon Junaidi Mahesa dan Pius Lustrilanang (Sekjen Aldera).

Seputar Peristiwa Mei 98, saya sependapat dengan mantan prajurit Kopassus, Kolonel Ruby. Prabowo Subianto tidak terlibat.

Kesimpulan dan rekomendasi TGPF beranggota 18 orang (Marzuki Darusman, Asmara Nababan, Said Aqil Siradj dan sebagainya) menggambarkan "seolah-olah pertemuan Makostrad adalah pertemuan rahasia merancang kerusuhan (Mei 98)". Pangkostrad saat itu adalah Letnan Jenderal Prabowo Subianto.

Saya sepakat dengan Fadli Zon yang mengatakan bahwa "laporan (TGPF) tersebut tidak berdasar pada fakta dan punya pretensi mencemarkan nama baik" (Prabowo Subianto).

Alasan saya sederhana saja. Pertemuan di markas pasukan dasar tempur milik TNI-AD itu berlangsung tanggal 14 Mei pukul 9 malam. Dihadiri antara lain Adnan Buyung Nasution, WS Rendra, Bambang Widjojanto, Setiawan Djodi, Ruhut Sitompul, Fahmi Idris dan sebagainya. Sedangkan kerusuhan sudah pecah tanggal 13 Mei 1998. Bagaimana mungkin merancang sebuah kerusuhan dilakukan sehari setelah kerusuhan itu sendiri sudah meletus?!

THE END

TUAN GURU dari PEKANBARU


@salimafillah
.

Sungguh suatu kehormatan bagi kami, pada perhelatan Islamic Bookfair Mei lalu, Gurunda Ustadz Abdul Somad, Lc, MA berkenan hadir dalam bincang buku Pro-U Media. Tak mampu seperti Shifunda Felix Siauw yang mengkhidmahi beliau sepanjang hari, inilah penghormatan kami kepada ilmu dan ahlinya; jazaakallaahu khayran kepada Akhinda Hidayat dari TafaqquhOnline dan Akhinda Maulana atas perekaman ini.
.

Sungguh kita tak layak menganggap seorang manusiapun di zaman ini suci di hadapan Allah. Tapi dengan keluasan ilmu, kebernasan fahaman, keadilan timbangan, dan pengertian yang mendalam akan fiqih dakwah dan keadaan ummat, Ust. Abdul Somad telah membawa kecerahan baru bagi ummat.
.

Luwes karena manthiq yang kokoh dan santun karena balaghah yang mantab khas fuqaha' Syafi'iyyah, faham perbandingan madzhab dan amat mengetahui variasi aqwal para 'ulama, ketat pada diri tapi membawa keluasan bagi ummat. Bersama Ust. Abdul Shomad, fiqih kembali pada ashalahnya, "Sesungguhnya Allah menghendaki kemudahan bagimu dan bukan menginginkan kesukaran untukmu", dan "Allah tidak menjadikan kesempitan di dalam agama."
.

Bagi yang dekat, hadirilah majelisnya. Bagi yang jauh, carilah majelis serupa. Sungguh tiap langkah ke sana dihitung memudahkan jalan ke surga. Betapapun kini kita dimudahkan oleh internet dan media sosial untuk menggapai ilmu, berkah tapak-tapak jalan ke pengajian itu tak tergantikan. Berkah ilmu kian langka. Hingga kadang di bawah video indah berisi ilmu manfaat seorang ustadz, berjajar serapah para pro dan kontra.
.

Dan di majelis-majelis semacam asuhan beliau, ada yang lebih bernilai dari ilmu. “Sebab pada guru yang sebenar berilmu”, begitu ditulis Ibn ‘Athaillah, “Kan kau reguk adab yang tak disediakan oleh buku-buku.”
.

“Kita lebih berhajat pada sedikit adab”, ujar Imam ‘Abdullah ibn Al Mubarak, “Daripada berbanyak pengetahuan.” Demikianlah di kala lain beliau menyatakan bahwa dirinya memerlukan waktu 30 tahun untuk belajar adab, ditambah 20 tahun untuk belajar ilmu. “Adapun ilmu yang kuhimpun dari seluruh penjuru raya selama dua dasawarsa”, simpulnya, “Sama sekali tak bernilai tanpa Adab yang kulatih sebelumnya.”
.

"Hampir-hampir Adab itu", tegas beliau, "Adalah dua pertiga agama."

JOKOWI ITU ORANG SOLO..

Pertanyaan yang sama dari banyak orang, "Untuk apa Jokowi menerima GNPF MUI di istana ?"

Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa itu adalah kelemahan Jokowi. GNPF MUI pimpinan Bahtiar Nasir selama ini dikenal sebagai kelompok yang berseberangan dengan Jokowi. Bahkan Jokowi sempat dikatakan oleh mereka selangkah lagi akan membuat negara ini kafir.

Saya malah memandangnya terbalik, bahwa sebenarnya disanalah kekuatan Jokowi..

Jokowi adalah tipikal orang yang mampu meredam emosinya sampai titik paling rendah. Ia mampu menyimpan semua strategi berperangnya sehingga tidak semua orang bisa membacanya.

Saya yakin, sedikit sekali dari kita yang mampu bersikap dingin dan menerima dengan ramah orang yang selama ini jelas-jelas bertentangan dengan kita. Bahasa tubuh ketidak-sukaan kita akan keluar dan secara otomatis kita akan menolak bertemu mereka.

Tetapi Jokowi adalah sedikit dari orang yang mampu seperti itu..

Saya teringat dengan dinginnya Jokowi mendatangi Bibit Waluyo - yang pada waktu itu masih menjabat Gubernur Jateng dan terkenal dengan kebenciannya kepada Jokowi waktu dia menjabat Walikota Solo. Jokowi yang baru saja menjabat Gubernur DKI datang dan berusaha mencium tangan Bibit yang dengan segera menepisnya..

Bisa anda begitu seperti Jokowi ? Saya meragukannya. Dan kita lebih senang mengukur diri kita seperti Ahok yang dengan spontan akan bereaksi keras..

Itulah yang saya bilang kekuatan sebenarnya Jokowi. Sama seperti ketika ia menerima Prabowo dan SBY di istana, padahal Jokowi jelas2 tahu bahwa kedua orang ini adalah musuh politiknya..

Lalu, kenapa Jokowi menemui GNPF MUI ?

Saya teringat seorang teman berkata bahwa Jokowi pernah berbisik kepadanya. "Kesalahan terbesarku adalah menciptakan musuh secara bersamaan dalam satu waktu. Pada akhirnya saya kerepotan sendiri menghadapi ketika mereka bersatu.."

Jokowi sebenarnya sedang memainkan pecah ombak. Ia pemain psikologis yang sulit dicari bandingnya.

Dengan menerima GNPF MUI - yang sudah merengek2 melalui Menag untuk bertemunya - Jokowi sebenarnya mulai memecah barisan lawannya. Ia merangkul satu musuh untuk menghantam musuh lainnya..

Dengan rangkulan itu, maka musuh akan mulai curiga bahwa koalisinya selama ini mulai berkhianat. Dan pada akhirnya diantara mereka tidak tercipta kepercayaan absolut.

Kita dengan mudah mengutip strategi Sun Tzu, "Dekatlah kepada kawanmu, tetapi lebih dekatlah kepada musuhmu." Pertanyaannya, mudahkah menerapkan strategi seperti itu tanpa kemampuan psikologis level dewa ?

Jokowi bisa.

Dan itu sudah dilakukannya berkali2 ternasuk terhadap Bibit, Prabowo dan SBY..

GNPF MUI tentu senang dan berbalik memuji Jokowi. Mereka "merasa" sudah berhasil melakukan langkah setahap untuk nego rekonsiliasi. Dan dengan itu mereka berharap bisa mengamankan posisi mereka yang sedang tidak aman itu..

Tetapi mereka salah besar..

Jokowi tidak akan menghentikan kasus-kasus hukum yang sedang berjalan. Ia sedang menancapkan pisaunya lebih dalam menembus tulang lawannya. Dan - hebatnya Jokowi - lawannya bisa mati tanpa berdarah dan merasa ia sedang dibunuh.

Ibarat permainan catur, Jokowi itu seperti terlihat membuka pertahanannya lebar-lebar dan menunjukkan kelemahannya. Padahal disanalah sesungguhnya jebakan yang mematikan..

Dengan menerima GNPF MUI, Jokowi akan meraih dua keuntungan sekaligus. Meredam serangan musuh dan menaikkan simpati dari pendukung musuhnya selama ini kepada dia.

Siapapun tahu, bahwa antara Jokowi dan Ahok ada hubungan khusus yang mendalam. Dan tidak ada yang bisa menghentikan rasa sakit hatinya terhadap musuh-musuh sahabatnya itu..

Satu persatu lawannya sedang menderita sekarang. Satu persatu..

Seharusnya lawan Jokowi mengerti satu hal yang sangat jelas tapi mereka selalu lupa. Bahwa Jokowi itu orang Solo..

Ah, saya selalu senang memperhatikan langkah-langkah catur orang ini sambil seruput secangkir kopi..

Tidak pernah sedikitpun saya meragukannya.

www.dennysiregar.com